Kalau kamu ngeband di Malang sekarang, kamu tinggal sewa studio per jam, rekam pakai HP, unggah ke YouTube. Gampang. Tapi tiga puluh tahun lalu, orang-orang di kota ini membangun skena musik dari nol — tanpa internet, tanpa distribusi, tanpa penonton yang sudah jadi.

1995: Total Suffer Community dan awal semuanya

Malang punya skena rock underground yang aktif sejak awal dekade 90-an. Motor penggeraknya adalah Total Suffer Community (biasa disingkat T.S.C), komunitas yang sejak awal 1995 jadi penggerak kebangkitan komunitas rock bawah tanah di kota ini.

Yang menarik dari T.S.C bukan cuma musiknya, tapi fungsinya sebagai infrastruktur. Di era sebelum media sosial, komunitas seperti ini yang mengerjakan hal-hal yang sekarang kita anggap otomatis: mengumpulkan band, mencari tempat manggung, menyebarkan informasi, dan membangun penonton dari nol.

28 Juli 1996: konser underground pertama di Malang

Titik yang sering disebut sebagai penanda resmi adalah gelaran bertajuk "Parade Musik Underground" di Gedung Sasana Asih YPAC pada 28 Juli 1996. Ini konser rock underground pertama yang digelar di Kota Malang, dan diorganisir oleh T.S.C sendiri.

Band-band yang tampil malam itu:

  • Bangkai
  • Ritual Orchestra
  • Sekarat
  • Knuckle Head
  • Grindpeace
  • No Man's Land
  • The Babies

Deretan nama itu sekarang mungkin asing buat sebagian besar orang. Tapi mereka yang pertama membuktikan bahwa acara musik keras bisa digelar di Malang dan ada yang datang menonton.

Malang dan brutal death metal Indonesia

Beberapa nama Malang punya andil besar dalam pembentukan musik ekstrem di Indonesia. Nama-nama seperti Keramat, Perish, Genital Giblets, dan Santhet layak diberi kredit.

Yang paling sering disebut adalah Rotten Corpse, yang jadi pelopor gaya brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka, "Maggot Sickness", mengguncang skena metal nasional pada masanya.

Ini konteks yang menarik buat kami: nama band kami sendiri, Sementaun, ditulis dengan gaya logo black metal yang berduri-duri dan nyaris tak terbaca — padahal kami membawakan lagu pop/rock. Itu candaan. Tapi candaan itu cuma jalan karena kota ini memang punya sejarah metal yang sungguhan.

2000-an: musik indie dan subgenre yang meledak

Memasuki awal 2000-an, Malang ramai dengan kemunculan musisi-musisi baru yang bergerak secara independen. Jenis musik yang ditawarkan jadi jauh lebih variatif dengan hadirnya ragam subgenre baru — tidak lagi didominasi satu warna.

Dua nama yang sering disebut mewakili skena Malang di industri musik nasional:

  • Snickers And The Chicken Fighter (SATCF) — campuran musik era 90-an dengan melodic punk.
  • Unda Undi — dengan signature pop / rock 'n' roll mereka.

Di sisi rilisan, Confused Records disebut sebagai indie label pionir Malang yang sampai sekarang masih bertahan dan tetap produktif merilis album. Bertahan puluhan tahun sebagai label independen di kota non-Jakarta itu bukan hal kecil.

Kenapa ini penting buat band pemula

Kami tidak sedang membandingkan diri dengan band-band di atas — jelas beda kelas dan beda niat. Tapi ada dua hal yang bisa diambil siapa pun yang baru mulai ngeband di Malang.

Pertama, infrastruktur skena itu dibangun, bukan ditemukan. Studio latihan yang sekarang tinggal kamu sewa per jam, tempat manggung yang sekarang tinggal kamu lamar — semua itu ada karena ada generasi sebelumnya yang mengerjakannya lebih dulu.

Kedua, mulai dari kecil itu normal. Parade Musik Underground 1996 digelar di gedung YPAC, bukan stadion. Semua yang sekarang terdengar besar dimulai dari acara kecil yang diurus sendiri oleh orang-orang yang peduli.

Kami mulai sebagai lelucon di grup chat, dan sampai hari ini masih setengah lelucon. Tapi kami latihan beneran, di studio beneran, di kota yang punya sejarah musik beneran. Itu sudah lebih dari cukup untuk mulai.